Untuk yang Kedua
Setelah ini masih adakah yang ketiga? Ketiga kegagalan beruntun. Bukan , bukan saya mau menyesali, marah kepada pemberi keputusan bukan. Ini hanya masalah hati yang bertempur dengan pikiran dan bilang”Lu tu harusnya malu sama yang lain , sampai kapan kamu mau kalah dan gagal terus?” dan kita lupakan masalah egoisme hati dan pikiran yang bertempur itu.
Lalu , apa yang ada dipikiran kamu sekarang jika dalam rentang 1 bulan terakhir ada 2 kegagalan yang beruntun? Marah? Kecewa? Sedih? atau hanya bilang yaaa biarlah berlalu. Saya pilih yang terakhir.
Dan diantara postingan ini saya berpikir, kenapa saya hanya memposting sesuatu ketika sedih , ah biarlah toh ga akan ada yang baca.
Kembali lagi , sejujurnya saya ga tau harus gimana dan harus berbuat apa. Semuanya terasa aneh. Saya bosan , bosan akan semua rutinitas ini , pola hidup di sini , makan belajar makan tidur belajar tidur , hanya diselingi kegiatan yang ga penting. Dan kebosanan ini adalah buah dari kegagalan dan hilangnya motivasi , dan anehnya ini semua membuat bahasa tulisan saya jadi lebih aneh lagi.
Oke, kita lupakan satu paragraf di atas atau loncatin saja. Inti dan kesimpulan terletak di akhir , itu bukan menurut Pak Usdiyanto guru bahasa Indonesia saya , tapi itu kesukaan saya. Kesimpulan dari kegagalan ini adalah:
Allah selalu punya rencana terbaik dan terindah untuk umat-Nya :)